Segoan: The Dancing Rice

Mumpung lagi semangat-semangatnya menulis lagi dan lagi banyak tabungan (makanan yang mau direviewnya maksudnya, bukan finansialnya) kali ini saya langsung mereview lagi. Review berikutnya jatuh kepada tempat makan yang tergolong baru di Kemang Raya: Segoan: The Dancing Rice. Letaknya ada di seberang Koi Kemang, di lantai atasnya Animo Bakery (Animo ini juga kalau tidak salah baru).

Gemassch. Tema restorannya sendiri tradisional tapi dengan packaging cuteness. 

Motif tempat duduknya aja sih tapi gemes.

Tempatnya kecil tapi dimaksimalkan jadi nuansanya beneran seperti warung makan. Mungkin karena jendelanya gak dibuka ya, udaranya jadi agak pengap. Begitu datang langsung ramai. Ketara sekali nuansa 'baru' nya, mbak-mbak yang melayani kami masih takut-takut. Apalagi dia sempat salah kasih pesanan. Mukanya langsung pucet kayak sticker LINE. Woles my love.


Menunya cuteness. Kata teman saya, yang mengerjakan menunya mantan kakak kelas SMA kami, seorang lulusan kampus di Karawaci *hayo siapa*.


Di sini kasarnya bisa custom nasi. Per porsi nanti disajikan sesuai customizationnya masing-masing (jadi nanti di atas piringnya akan disediakan sambal dan topping pilihan masing-masing). Pilihan nasinya ada empat dengan pilihan topping masing-masing. *kalau ada remah-remah gorengan juga juara nih. Kerupuknya juga kalah variatifnya. Ada kerupuk yang pinggirnya warna-warni (favorit saya!), yang dari beras warna kuning (favorit saya juga kalau makan pecel!), dan kerupuk beras yang warna-warni. Serius, kalau ada kuliah jurusan kerupuk saya mau deh.

Tapi karena kami memutuskan untuk makan barengan, tiap menunya pun disajikan terpisah. Berhubung kami berdua tidak makan daging (teman saya lagi gak makan daging), kami pun memilih gorengan sebagai lauknya. Yang ternyata besar-besar.

Tumis Kangkung
Tumis kangkung never fail. Sambal yang disediakan dari tumis kangkungnya pun sama enaknya. Tapi mungkin benar ya kata orang-orang tua jaman dulu, kangkung bikin ngantuk karena beres dari sini saya langsung ketiduran dua jam.

Tempe Mendoan dan Bakwan Jagung
Seporsi dapat tiga pieces. Besar besar pula, tidak lupa cengeknya! Nyum. Bakwan Jagungnya lupa difoto. My bad.

Es Badak
Pesanan teman saya yang waktu melihat ada pilihan Es Badak di menu, mukanya langsung excited bak ketemu kecengan lama. Ngangenin ya rasanya?

Jeruk Nipis
Pesanan saya. Yang sok-sok pengen asem tapi buntutnya dikasih gula juga biar manis. Yah, kurang lebih begitu jugalah kehidupan saya.

Sambal Bajak
Enak! Maniss dan pedas. Saya agak gak enak sama teman saya soalnya saya makan sambalnya boros banget.

Sambal Terasi
Sambal hijaunya habis jadi kami pun kembali ke old favorite kami, sambal terasi. Sama enaknya! Asin dan ikan terinya bisa kelihatan mengintip-intip.

Serundeng
Serundengnya datang terakhir-terakhir. Tapi tetap enak diaduk campur sambel dan mendoannya. Nyummmmmmmm, heavenly delight! ♡⃛◟( ˊ̱˂˃ˋ̱ )◞♡⃛ Yah nasinya malah gak difoto. Padahal saya memesan nasi gurih (nasi uduk) dan teman saya dengan nasi merah.

Guest Contributor kali ini: Ndy (25 tahun)
Freelance fashion designer. Sedang menyicil membangun proyekan brand-nya sendiri di sana sini. Sedang menyiapkan kepergiannya untuk trip ke Rusia. Mungkin ada yang butuh fashion stylist, atau sekedar butuh teman berenang, bisa menghubungi saya.

"Duh enak, rasanya homemade. Gw suka sama instagram yang punya tempat makannya deh, ga, bajunya lucu-lucu. Suka heran pada beli di mana."

Padahal cuma nasi, sayur dan gorengan, tapi kenyang. Kami yang tadinya tergiur dengan pilihan dessertnya pun memutuskan untuk tutup kas dan meminta bon.


Untuk tempat makan local cuisine dengan pilihan sambal dan krupuk yang bikin saya kalap, dengan gorengan yang sizenya besar, dengan biaya 70 ribuan/orang, di jajaran Kemang pula (dekat rumah) = tempat makan ini cukup saya banget. Dengan ini saya berikan
8, 5 out of 10!


JAJALED!
*nah itu ada foto bakwannya, tapi sudah tinggal setengah, hehe.

No comments:

Post a Comment