Lawson Station

Minimarket Tanpa Chitatos Keju



Yak, jadi beberapa bulan terakhir di Jakarta setelah trend SEVEL (baca; Seven Eleven/7-11, gua jijik nulis sevel, jadi berikutnya 7-11 aja ya) muncul diberbagai penjuru kota ini tanpa henti dan pembangunan gedungnya sama cepatnya dengan percintaan Aurel dan album-albumnya Spazz, muncullah saingannya, yakni Lawson Station. Well, mungkin agak telat saya ngereviewnya tapi yasudahlah, karena tulisan ini sebelumnya sudah dimuat di halimun *13 (pdf zine) dan di iyaa.com :/

Lawson Station (yang selanjutnya saya sebut Lawson saja deh, pegel jarinya) mulai terlihat banyak dimana mana 3 bulan terakhir ini, oleh karena itu saya tidak bisa menyebutkan spesifik alamatnya, jadi saya memutuskan untuk menjajal Lawson yang pertama di Jakarta, yaitu di Kemang Raya. Isinya pun mirip, sebuah minimarket dengan meja dan tempat duduk untuk nongkrong didalam dan luarnya, sama seperti 7-11.

Dengar dengar sih gosipnya 7-11 & Lawson itu izinnya bukan izin tempat belanja, melainkan restoran, oleh karena itu semua gerainya diberikan tempat duduk dan meja. Usut punya usut, nampaknya jika 7-11 satu group dengan Fujifilm, Lawson satu group dengan Alfamidi, kemarin saya liat ada lowongan pekerjaan untuk Lawson dan alfamidi tapi dalam 1 spanduk yang sama, nampaknya hal seperti ini yang membuat Lawson dan 7-11 gampang bertebaran dipenjuru ibukota, karena Fujifilm dan alfamidi sudah ada dimana-mana duluan, tinggal convert doing deh.

Yeah whatever, sekarang mari kita bahas apa yang membedakan Lawson dengan 7-11, terutama dari segi makanan. Lawson lebih bertemakan Jepang jika dibandingkan 7-11 yang sebenarnya juga dimiliki oleh orang Jepang (tapi aslinya orang amrik sih). Bisa terlihat dari makanan-makanannya seperti Oden (yang dicelup-celup kekuah gitu macam bakso, crab dll), onigiri (yang mereka buat langsung diminimarketnya), dll. Tetapi ada juga hotdog, fried chicken, sandwich dll buat yang bingung sama makanan jepang.

Tetapi apa yang menjadi favorit saya disini? Ini lah:

Daruma Steak (IDR. 13.000) yang merupakan daging olahan yang ditusuk kayu . Rasanya sekilas seperti sosis. Tapi bikin nagih, coba harganya 10 ribu rupiah pasti saya belinya lebih banyak.

Milo dingin dispenser segelas (IDR. 4.500) meskipun cuman segelas, tapi ada trick tersendiri dalam membeli milo ini, saya sih merekomendasikan membeli ini sebelom anda cabut dari Lawson, jadi saat diisi sok sok kepenuhan gelasnya, ambil sedotan, lalu diminum lagi ampe setengah, terus fill lagi ampe penuh dan ulangi lagi (tentunya jika anda sangat haus atau memang penggemar milo) sampai anda puas, setelah penuh baru deh bawa kekasir. Ga dicomplain kok, suer.

Jika ada tutup yang kayak tetek pake itu aja, liat nih bisa diisi susu yang banyak kan? B)

Onigiri (IDR. 7.000) meskipun rasanya biasa aja, tapi lumayan buat ganjel perut saya sih sukanya yang salmon dan karrage, tapi kali ini saya memesan yang salmon.

Ini apaan sih harganya 12. Ribu, saya ga mau bahas ah skip. Aduh.

Me across Lawson Station at Tokyo
Jadi Lawson pertama kali dibuka tak jauh dari 7-11 kemang sekitar pertengahan tahun lalu, saya pun sempat mencoba Lawson di kota Tokyo (cie sombong ke Jepang), dan menurut saya Lawson di Jakarta jauh lebih keren dibandingkan yang di Tokyo, yang bikin Tokyo menarik mungkin karena ada ini :

hehehe.
Pembayaran pun berlangsung dan nampaknya tak ada pajaknya. Sip. Dan mereka menyediakan tempat untuk buang struk *ga penting sih*

Saya berikan Lawson Station 8/10 karena belum ada gerombolan shuffle dan tukang chitato campur keju diminimarket ini.
JAJALED!

No comments:

Post a Comment