RM. Talago Biru

Hey, Riar disini. Rasanya udah bertahun tahun gak nulis disini semenjak agenda anti cholesterol dan say no to asam urat saya canangkan, plus kesibukan sehari hari (makan, tidur, nonton -red.) yang emang banyak nyita waktu.

Jadi ceritanya sekitar satu atau satu setengah tahun lalu ketika saya masih ngekost dan mengenyam pendidikan seni rupa di salah satu institut di Jalan Ganeca Bandung dan masih dalam kapasitas kegalauan tahap akut akan masa depan seni rupa Indonesia diajak lah saya oleh seorang teman, sebut saja Mr. Pardede, dia mengajak saya untuk sejenak melupakan kegundahan hati saya akan masa depan seni rupa Indonesia saat itu. Berangkatlah kita menuju daerah Jalan Tamansari atau lebih populer dengan sebutan Balubur. Ternyata dia membawa saya ke sebuah tempat makan kecil dan agak sempit bernama RM. Talago Biru, seketika darah Minang saya bergejolak ketika melihat banner nama tempat makan itu.


Maaf fotonya pakai Handphone, karena camera canggih saya di paling penjaga kuburan *true story bro*

Dengan tampilan Uda nya yang sekilas mirip dengan Tazz sebelum dia jadi komentator WWE, tambah lah saya bersemangat. Saya memesan Ayam Bakar dan Telor Dadar.

Yang paling kiri atas adalah Ayam Bakarnya (saya memesan dada), kirinya adalah telor dadar, bawahnya adalah nasi + kol + timun + sambelnya


Lalu apa yang terjadi adalah, *jeng jreng* mata berbinar binar, seakan akan jatuh cinta pada pandangan pertama saat pertama kali bertemu di pameran photography! Oh Tuhan, aku bangga jadi bangsa Indonesia karena makanan ini. Bayangkan Ayam Gulai yang biasa kalian semua temukan di RM. Padang pada umumnya dibakar sampai agak agak gosong dikit gitu, terus dihidangkan bersama dengan sambal balado yang penuh minyak dan cabai yang tidak murah, ditambah dengan telor dadar yang di goreng dengan minyak menyerupai oli. Betapa heavy nya jadi orang Minang.

Ini detail ayamnya, jelek sih. Tapi Rasanya!!

Nah yang ini sambel nya, susah dapetin detailnya. Huhu maklum pakai handphone.



Habislah 2 piring saya makan disitu. Lalu pada saat bayar *jeng jreng*, 12 ribu saja! Untuk 2 piring nasi, Ayam Bakar, dan Telor hanya habis 12 ribu. Rasa Black Sabbath, harga Marjinal. 

RM. Talago Biru atau para cult follower nya (mostly anak anak UKM Minang ITB dan fellow heavy eaters) biasa menyebutnya dengan singkatan TAKBIR ini ternyata adalah cabang, tapi sudah hampir satu tahun lebih saya mencoba untuk mencari dimana pusatnya tapi gak pernah ketemu, malah dapet pacar duluan daripada dapet pusat si TAKBIR ini. Yasudah lah.

Ini dia tempat penyajiannya.

Jadi bagi kalian orang orang luar Bandung yang mau ke Bandung tapi minim dana, gak mampu untuk makan di Warung Laos, saya sarankan untuk ke RM. Talago Biru! Kalau kalian tidak tau dimana letaknya coba tanyakan ke anak anak ITB, atau alumni ITB, atau yang punya mantan di ITB. Mudah mudahan mereka tau. Oiya, RM. Talago Minang ini buka hanya dari jam 4 sore sampai jam 9 malam.


Buat kalian yang masih penasaran, ini ada orang yang dengan berbaik hati memvideokan tempat indah ini, saya share agar lebih jelas. At least lebih jelas dari kamera handphone.




Akhir kata, buat kalian yang akan mencicipi tempat ini. Bersiap siap lah untuk:


9,92/10


JAJALIZED!

*foto - foto diambil baru baru ini, kisah-nya sih udah lama


No comments:

Post a Comment