Cafe Moka

Cuisine: International

Location: Jl. Raya Seminyak, Bali

Score: 7.5/10


Di sudut gang tempat saya menginap, beriri manis sebuah café bergaya mediterania. Mungkin kalau dibanding dengan rentetan café2 dengan reklame diri yang jauh lebih menarik dan jor2an di wilayah seminyak, café moka ini tidak masuk dalam list café wajib jajal selama gw di sini. Tp mendengar rumor cakes dan pastanya enak.. langsunglah di satu pagi dengan, tas berat, rambut basah, serta kepala penuh daftar PR yang harus gw kerjakan gw melipir ke sana.



Untuk ukuran pagi yang tanggung, café ini sangat penuh, hanya tersisa satu meja dengan satu kursi di pojokan untuk saya. Perfect vantage point! I’ve always liked corner seat, karena dengannya membuat gw lebih mudah memandang venue secara keseluruhan. Walaupun entah kenapa, duduk sendirian di kursi pojokan ini, dengan mata tak lepas dari laptop serta kamera, ternyata mengundang perhatian para pengunjung yang, seriously, ga ada satupun turis local seperti saya. Sudahlah, toh earphone sudah menancap di kuping.


Mungkin, café moka ini bisa dibilang café clash-of-culture. Awalnya saya kira ini adalah café perancis, sempat bergeser ke italia juga berhubung yang terkenal adalah pastanya, belum ditambah design interiornya yang berbau mediterania ini. Dan begitu membuka menu, saya kian bingung lagi. Café moka memiliki breakfast set menu seperti, American breakfast yang berupa segelas jus, 2 butir telur dengan bacon atau sosis, sekeranjang roti (ga bohong, porsinya banyak banget), buah2an dan ditutup dengan kopi atau teh. Atau mau sarapan imut ala perancis, Petit Dejeuner Parisien, berupa segelas jus, 2 potong cake, butter and jam, kemudian ditutup kopi/the/coklat panas (apanya yang petit, btw?), atau buat yang perutnya baja, bisa pesan sarapan meksiko dengan segelas jus, red beans with guacamole, 2 butir telur dengan bacon atau sosis, sekeranjang brown bread lengkap dengan butter & jam, dan ditutup dengan kopi atau the.


Masih ada lagi trekking breakfast (menu2 sehat seperti buah dan yoghurt), tropical breakfast (you do the math, kira2 menunya akan berisi apa aja), sementara saya pesan coffee lovers breakfast. Kopi, sepotong cake, dan air mineral.


Buat kaum perempuan pecinta cake, pastinya akan dihadapi pilihan yang sulit. Cake2 menggiurkan dengan tampilan cantik sudah terpampang begitu memasuki café. Mata saya pun langsung meneliti dengan liar begitu melihat seberapa banyak pilihan yang harus saya tentukan. Dan Lemon Tart menjadi pilihan pertama saya. There’s no way I could resist lemon tarts, eventhough sering kali lemon tart itu mengecewakan saya. Lemon tart, atau mungkin saya sebut lemon meringue, pesanan saya ini sebaiknya tidak dikonsumsi oleh orang2 yang tidak menyukai rasa asam. Lemon creamnya tajam menyengat, controlling over your palate. A striking lemon, just the way I love it. Whipcream yang manis menetralisir dengan segera rasa asam yang tajam, kemudian base pie yang buttery melengkapi rasa tart ini.


Untuk kopi, rasanya cukup lite. And thanks god, foamnya ga kebanyakan. Cuma yang dari kemarin cukup saya sayangkan, I haven’t found a proper coffee here. Selain varian yang itu2 saja, ditambah there’s no sense of pride akan kopi2 lokal. Setiap saya Tanya, mereka menggunakan kopi apa, jawabannya selalu sama:


“wah mbak, kalo itu cuma kopi local, lebih baik pesan ini saja, kalau itu baru pakai illy”


hummm they just don’t realize how wonderful kopi bali is…


Mungkin cuaca panas setempat membuat budaya minum kopi meluntur di sini.


PR masih banyak, hari sudah siang, dan saya pun kembali melapar. Sempet tergoda dengan bau quiche meja sebelah saya yang sangat menggiurkan, atau sandwich dengan Focaccia bread meja seberang saya, bahkan sekeranjang roti hangat meja depan saya saja terlihat menggoda, oke baiklah saya benar-benar lapar. Dan sangat dilemma mau pesan apa, sayangnya saya sendirian jadi ga bisa coba2 huhu. Berhubung tujuan awal saya adalah menjajal pasta yang katanya enak itu, saya pun membulatkan tekad, satu spaghetti Pistou untuk saya


Pistou adalah pasta dengan basil, tomat serta garlic. Dan untung saja saya tadi tidak jadi tergoda memesan sekeranjang roti karena pistou saya datang bersama teman2nya yang di keranjang itu.



Sekeranjang teman pistou itu berupa home made white bread dan brown bread. Dengan sebongkah besar unsalted butter. Rotinya luar biasa harum dan gurih. Crispy di bagian permukaannya, dan sangat lembut di bagian dalam. I could eat this all day!



Sementara untuk pistounya, untuk lidah Indonesia yang sudh terbasa dengan spices mungkin akan terasa sedikit bland. Didominasi aroma basil yang rasanya nyaris seperti seledri, hanya lebih mild, tidak sewangi seledri, dan sedikit lebih pahit. Dan efek blandnya itu datang dari fresh chopped tomato yang ikut dimasak dari awal hingga layu dengan olive oil. Garlicnya finely-cooked, sehingga tidak lagi terlalu tajam tapi cukup untuk mengimbangi rasa agar tidak eneg di after tastenya. Tidak puas dengan rasa yang tidak meledak2? Tambahnkan parmesan cheese. Keju dan tomat itu adalah pairing terbaik. Begitu parmesan ditabur rasanya langsung balance. Paduan tomat dan keju yang sempurna segera menonjol ke depan, sementara basil segera berperan sebagai herbs yang menghiasi kecapan2 rasa sebagaimana mestinya, kemudian diakhiri dengan aroma garlic yang ringan. Thumbs up. Ini yang gw sebut sebagai pasta serius. Kadang ketika gw menjajal pasta, sering kali gw mendapati pasta2 yang tidak bermain dengan herbs nya, dan terlalu didominasi rasa tomat, atau bahkan rasa tepung pasta! Dan untuk café moka, gw jamin keseriusannya dalam memasak pasta!


Sobek roti, cocol ke butter. Jadi rumput yang bergoyang. Nyammmmm.


Café Moka (yang ternyata benar Café Perancis), mungkin memilik tampilan tidak seberapa cantik dari luar bila dibandingkan cafe2 yang lebih meriah di sepanjang Jl. Seminyak, tapi begitu masuk, you will sense a totally different thing! Mungkin karena fokusnya turis2 asing, mereka begitu serius mengolah makanan mereka, dan Karena berusaha meraup segala range turis, jadinya banyak varian di café ini (yang setelah gw perhatikan baik2, sebagian besar café di bali suka mencampur menunya dengan makanan manca Negara), untungnya karena dibarengi dengan keseriusan dalam mengolah bahan tadi, rasanya tidak ‘nanggung’ dan benar2 royal dengan ingredients –nya ☺


4 comments:

  1. where is the bill.........???

    ReplyDelete
  2. Wah Cafe Moka! di Jalan Double Six, bukan? =)

    Nice to meet you here...kenalin, aku blogger
    (lumayan) baru... kalo sempet monggo mampir ya =)

    http://culinarybonanza.blogspot.com/

    ReplyDelete
  3. ni tempat emang salah satu favorit gw. salmon sandwich dan sheperd's pie-nya wenyakk! porsi buset lagi, cocok buat perut kuli macem kite :D
    dan bener kata lo. kopinya ngga terlalu stand out. sayang banget.
    salam kenal yak!

    ReplyDelete