Ajihara

Kalo lo tanya dimana sushi yg enak di little tokyo, gw bakal jawab kaihomaru

Kalo lo tanya dimana yakitori yg enak di little tokyo, gw bakal jawab kushigin

Kalo lo tanya tempat makan seru di little tokyo, gw pasti jawab Manpuku

Nah kalo tempat enak buat nongkrong2 sembari makan besar, jawaban pertama yg muncul di kepala gw pastinya Ajihara.

Menurut gw, ajihara adalah tempat yg nyaris All-in, mulai dr sushi-sashimi, ramen, tempura, donburi, yakitori dan berbagai menu tradisional jepang lainnya. Tempatnya walaupun ga mewah, tp nyaman buat nongkrong rame2 semaleman. Dengan enterance yg nyaris nyempil di salah satu block little tokyo, dan ruangan yg ga terlalu besar tapi lengkap dengan sushi bar di sebelah kanan, hamparan tatami di sebelah kiri. Didekor seperti warung2 ala Jepang.


Kemarin setelah duduk2 ngopi, akhirnya wahyu, radiofeeder, arrisaprillo, SiAril, AchiAstri, adeknya achi dan temennya beserta gw melipir ke Ajihara untuk ngudap (?) Malam... Yang ternyata ajiharanya penuh (-,-) jadilah kami 'dibuang' dulu ke lantai atas, which is lantai atas ajihara itu adalah bar.

Gw belum pernah mengintip bar ajihara, dan sempet gentar liat tangganya yang sempit dan terlihat seperti tempat pelacuran rahasia (maap loh Harada-san, tp aku merasa seperti itu XD) lengjkap dengan satu kursi bobrok di puncak tangga yg kami curigai sebagai tempat mangkal seorang centeng XD. Memasuki bar.... Dyar tiba gw ngerasa ada di salah satu tempat mabuk2an pinggiran di daerah puncak2 gitu, lengkap dengan mbak2 menor serta lagu2 goyang-pantura-ish. Setengah merasa berdosa krn telah menyesatkan bocah2 tak bersalah XD.



Sekitar 20 menit kemudian si mbak (yg udah capek kita tanyain terus) membawa kabar gembira: lantai bawah sudah bisa di tempati. Akhirnya more civilized dengan ibu2 yang melayani dan sabar menjawab pertanyaan2 kami yg bertubi2.

Menu2 yg serba ada itu kadang menyesatkan, bikin gw bingung mau pesen apa. Antara sushi set yg super enak, ramen yang konon lebih enak dr sanpachi, zaru soba yg terlihat mewah, atau mencoba menu2 yg belom pernah gw coba. Dan berhubung jiwa 'berpetualang' gw yg lg keluar, jdlah gw memesan seporsi Sake chazuke.

Chazuke adalah menu jepang berupa nasi dan lauk yang disiram dengan ocha dan dashi, pastinya terdengar 'ganjil' ya? Makan nasi kuah teh. Kalo bukan gara2 hasutan konstan rully, seorang teman yg saat ini bekerja di Jepang. Serta tergiur gara2 nonton Osen beberapa waktu lalu. Jadilah gw memberanikan makan teh pake nasi.


Rasanya? Ga seaneh yg lo bayangin. Rasa teh di sini ga sefrontal rasa the pada normalny, menurut gw lebih mirip rasa kuah shoyu, bening, gurih, tp segar. Dengan, baked sake (salmon), plus shitake cocok banget buat yg lg kurang enak badan. Walaupun yah, gw bukan penggemar salmon dalam keadaan matang. Oiya, di atas menu ini ada sebongkah wasabi, yg sumpah bikin rasanya makin 'segar'

Seperti yang sebelumnya, ajihara memberikan complimentary buat kami. Pertama, edamame. Awalnya kita cuma pesan 1 porsi edamame, tp dengan baiknya malah dikasih 3 porsi :D, kemudian kami diberikan semacam platter berisikan 4 jenis appetizer. Pas gw tanya namanya si ibu menyebutkan sebuah nama yg terdengar seperti chuka chinmi senmai. Yg gw tau, chuka chinmi itu seasoned scallops (ya spt yg ada di sushi tei) sementara senmai-zuke itu pickled radish. Tp yang datang adalah sesuatu yg seperti pickled melinjo (ini pure ngarang, tp serius bentuknya mirip melinjo, tp empuk dan aga pait sedikit di after taste nya), kemudian sesuatu yg terlihat spt seasoned seaweed, yg satu lg sepertinya benar si chuka chinmi, dan yg terakhir semacam gurita dengan saus mayonaise (yg pd akhirnya gw baru tau kalo itu kyknya cumi. Karena akhirannya gw sakit)


Oke sedikit mereview menu2 yg gw cicipi kemarin dan dr kesempatan yg sebelumnya berdasarkan ingatan gw:

Sushi & Sashimi.
Ga perlu dipertanyakan lagi, ajihara memilih grade ikan yang berkualitas. Ikan2nya super segar dan tidak amis, dan best of all.. LUMER DI MULUT. Ini yang namanya seni ikan mentah! Nasinya juga pas, ga mudah hancur ataupun kelembekan.

Note: kalo lo perhatiin di film2 jepang, topping ikan pada nigiri sushi itu rata2 panjangnya melewati nasi sushi-nya, ga seperti sushi2 di sini yag besar toping proporsi dengan nasinya. Nah di ajihara, porsi ikannya disesuaikan dengan standar sushi yg gw liat di film2 jepang. Sampe2 si ibu menawarkan: "sushi-nya mau dipotong ga?"


Miso ramen.
Seperti yang dijanjikan, ramen di sini benar berkualitas, kuahnya pas gurih, dan mienya juga kenyal, ga seperti mie asal buat yang kadang jd mudah lembek. Porsinya juga luar biasa banyak.


The Complimentaries
Seperti yg udah gw sebutkan di atas, chef Harada hobi sekali 'mentraktir' pelanggannya. Dua kali saya ke sana dan dua2nya saya dapat hadiah mencicipi gratis (plus dpt diskon 10% pula). Sayang kemarin ajihara lg full house dr jam 6 sore, jd Harada-san jiwa isengnya ga tersalurkan. Kalau kmrn kami dpt ekstra edamame dan appetizer platter. Di kesempatan yg sebelumnya kami dpt bonus semacam escargot yg gw ga tau namanya, tp ini bener2 enak, seperti sudah direndam dashi smp tidak amis dan gurih. Kemudian krn melihat kehebohan kami adu makan wasabi serut, harada-san memberikan kami complimentary berupa natto (yup, the stinky, sticky, fermented soy bean), dan satu dish ubur2 yg ternyata enak, serta seporsi takoyaki hiburan. Maksud Harada-san menghibur setelah membuat kami mual dengan natto, yg ternyata... Adalah takoyaki jebakan! 3 diantaranya diisi sebongkah wasabi.. Dan dia tertawa puas karenanya!

Note: karena takoyakinya sangat enak, jd gw rekomendasiin ke achi. Tp pas pesen takoyaki ke mbaknya, dengan wajah bingung dia menjawab

"Waduh mbak, kita ga pernah jualan takoyaki"

Ha?
Nah yg waktui itu apa dong? Jangan bilang si Harada-san niat pesen takoyaki di resto sebelah demi ngerjain kita? *terharu*

Ajihara buka dr jam 5 sampai jam 11 malam, tp kalo lo mau bertamu sampe jam 2 pun chef Harada tetap sabar menemani. Dan kalo udah malam, chef harada dengan sendirinya mendatangi tamu2nya mengajak ngobrol dan becanda2 tipsy XD. Hebatnya ya, gw kan ke ajihara terakhir kali itu tahun 2009, dan percaya atau enggak, kmrn dia masih inget sm gw dan wahyu *terharu lagi*


Kalod ari tempat, Ajihara memang ga terkesan mewah seperti gerai2 Jejepangan di wilayah Little Tokyo. tapi gw ngerasa sangan nyaman berlama2 di sini, mungkin karena auranya yang homey, dan owner yang humble luar biasa :) (cuma masalahnya, di sini susah sekali dapet sinyal)


Harga
Untuk harga ajihara emang termasuk pricey, tp kalau dilihat dr kualitasnya, worth every penny

Sashimi: arris pesan seporsi salmon sashimi + seporsi tuna sashimi = 156rb

Sushi: inari sushi 2pc = 40rb. Sushi moriawase pesanan wahyu = 150rb

Ramen pesanan achi = 60rb

Sake chazuke pesanan gw = 48rb

Sake botol kecil = 88rb

Sake botol besar = 170rb


Location: Little Tokyo, Jl. Melawai IX No. 3A Blok M Kebayoran Baru
Score: 8.5 / 10



Kopikoe Kopimoe

Little tokyo adalah salah satu tempat berkelana favorit gw. Entah kenapa selalu aja ada tempat2 baru yg menarik setiap gw datang (entah itu baru saja dibuka, atau sekedar tempat yg selama ini terlewat mata). Salah satunya adalah Kopikoe Kopimoe. Kedai kopi dengan logo yg lucu :)


Setelah kekenyangan makan fish and chips, tdnya gw mau ke coffeewar, tp mengingat coffeewar tempatnya tidak besar, sementara dia cukup ngetop, dan saat itu malem minggu... Hmm jd agak gentar yha.. Yasudah berhubung udah diajak aril ke little tokyo, sekalian aja deh pindah venue, ngejajal kedai ber-gallery ini.

Begitu gw masuk ruangan, the room fascinates me, mungkin karena kedai ini dibarengi gallery, jd berasa minum kopi sembari jadi bagian dalam seni itu sendiri. Kalo lo singgah, sempatkan ke ruang gallery di belakang.. Keren abiatch.


Untuk kopinya sendiri kedai ini menawarkan beberapa macam kopi lokal serta metode brewing yang sedikit berbeda: Siphon atau bisa disebut juga Vacpot (Vacuum Pot). Sebetulnya Vacpot ini udah pernah ada di beberapa gerai kopi, salah satunya saya pernah lihat si Vacpot di Coffee Club, tp yg serunya di Kopikoe Kopimoe Vacpot di-served di meja tamunya. Jadi lo bs liat proses brewing mulai dr si mbak menyalakan api sampai pelan2 melihat uap yg menanjak tabung. They let us become a witness of the work of coffee science. it's fun to see how Liquids defy gravity and spread a fantastic aroma through the air...



Satu aceh gayo dengan Siphon dan Kopi robusta lampung tetes.

Sebetulnya tekstur kopi yg encer bukanlah favorit saya :), tp karakter kuat aceh gayo itu memang tidak terelakan. Pahit menusuk dan harum luar biasa. Semakin lo tambahin gula ke dalam kopi, semakin berjaya acidity nya. lo seperti dikuasai oleh karakter si Aceh Gayo ini. baru satu teguk... dan langsung gw dibuat mabuk *literally*


Next, adalah kopi fave saya: kopi tetes, gw paling suka karakter kopi yg kental (seperti lazimnya bapak2). Kopi lampung pesanan saya ini sebetulnya masih terhitung encer buat saya. Tp cukup beruntung adanya condensed milk membuat teksturnya tampak sesuai keinginan saya. dan enaknya susu kental manis membuat saya tidak perlu menuang gula ke dalam kopi :). Seperti halnya karakter Robusta, kopi saya ini terasa "harsh" dan ada aroma "terbakar" yang khas... buat saya, robusta itu rasanya..."nonjok" XD


ada beberapa menu makanan tradisonal juga di sini seperti tape bakar keju, bahkan Bajigur segala. Dan makanan2 berat lainnya sejenis pasta dkk. sayangnya karena masih kenyang, dan sedang bersiap untuk makan (lagi) jadi kami tidak berniat memesan apapun selain kopi.

Overall, tempat ngopi ini jelas bukan sekedar tempat kopi "main2" mereka berani mengeluarkan varian kopi yang "tidak biasa" (salah satunya si Aceh Gayo itu), dan menggunakan teknik brewing yang juga tidak "komersil", dan menyajikan "performance" yang menarik. sepertinya tempat ini memang ditujukan untuk para peminum kopi berat serta para petualang rasa :)

:cheers:

ps: Achi sempat menyicipi teh tariknya, sayangnya kurang spesial katanya. dan gw sempet bertanya menu favorit di sini, dan lagi2 si mbak menyodorkan 2 menu ice blended coffee (-,-)

Location: Little Tokyo, Jl. Melawai 9 No.2 Kebayoran Baru Jakarta Selatan
Score: 7.5 / 10


Jong Ro: Korea Fusion Cake House


Menu makanan Jepang? Udah sering
Kalo Chinesse Food? Apalagi

Nah Kalo Korea?

J.A.R.A.N.G

Walaupun udah mulai menjamur beberapa restoran korea akhir2 ini, tp tetep variannya selain kimchee, bibimbap, dan berbagai BBQ beserta teman2nya, menu yang lain masih kurang begitu terdengar.

Apalagi untuk departemen kue2nya.

Beberapa minggu lalu, waktu gw 'nyasar' bareng wahyu dan iki di wijaya. Ga sengaja, kita bertiga nemu toko kue kecil ini. Dan lagi2, tempatnya misterius, ga keliatan bagian dalamnya. Cuma ada pintu dan jendela kaca yg semuanya ditutup foto2 kue dengan desain letak yg ga menarik. Cukup beruntung bentuk2 kuenya seru, dan kata 'kue' serta 'korea' udah seperti umpan empuk buat gw. Nyam.


Beberapa waktu yg lalu, gw sudah meneguhkan tekad buat masuk ke dalam toko tertutup itu. Gw bener2 penasaran sm kue asal korea. Walaupun, di spanduk jelas tertera "Korea Fusion Rice Cake", jadinya si kue mungkin ga otentik2 amat. Tapi yah, fusion ga fusion tetep gw penasaran. XD

Pas gw buka pintu:

*jegrek*

langsung tampak 3 wajah yg terkejut, seperti ga menyangka ada tamu datang. satu bapak2 yg gw curigai adalah sang owner asal korea, satu mas2 yg sibuk dengan beberapa bahan kue, dan satu mbak2 yg melayani.

Dibanding toko, tempat ini lebih mirip dapur. Displaynya aja ga ada, cuma ada meja kecil (yg lebih mirip counter dapur dari tegel) dengan beberapa jenis kue yg bs dihitung dengan jari. Sepertinya tempat ini memang bukan toko yg menjual dengan display seperti kebanyakan toko kue lainnya. Tapi memang diperuntukkan buat pelanggan2 tetap kelas kakap dengan partai besar.


Seperti yg tertera di spanduk, toko ini memang menyediakan kue2 terbuat dari tepung beras, seperti mochi. Cuma disediakan dalam tampilan dan rasa yang sangat bervariasi.

Kue yg kebetulan tersedia di meja kecil pas saya datang adalah: Beksulgi, Mujige, GyungDan, Injelmi, Yeongyangtuk dan Mochi (jangan tanya berapa kali gw bilang "hah?" Seperti bocah dungu tiap mbaknya menyebut nama2 asing itu)

Setelah dilema memilih kue yang ga banyak itu, si mbak menyarankan saya sekotak kue yg paling ga menarik bentuknya, namanya: Yeongyangtuk. Kata mbaknya kue ini paling digemari. Padahal GyungDan yang warna warni itu terlihat menarik sekali. Ya sudah, krn merasa awam (dan mochinya pun segede gaban) jadinya gw mengikuti saran si mbak, membeli sekotak kue yg terlihat seperti dodol warna warni diberi tepung.


Sampe rumah, bikin kopi dan siap jajal

Berhubung sekotak isi 6 dengan 4 rasa yg berbeda, jd gw sm wahyu main tebak2an rasa (yg paling gw inget cuma pink itu rasa stroberi kata si mbak)

Yg pertama gw coba yg ungu, tdnya gw kira ini rasa blueberry, krn si mbak sempet sekilas sebut2 rasa itu pas di awal gw nanya, tp ternyata..... rasa ketan item! Gw ga bohong, ini enak, rasanya bener2 literally ketan item, bukan cuma rasa ecek2 simbolik doang yang semodel ketan item cuma diambil sari2nya doang trus diceburin ke adonan. Tapi ini beneran berasa ketan item sejati.

Next si pink alias stroberi. Kalo lo bayangin stroberi bener2, ya rasanya jauh, tp lumayan enak dengan chunk buah2an serta kacang di dalamnya, lama kelamaan ada sedikit rasa asam-manis, yg kemudian meninggalkan after-taste agak pait seperti buah2 yg dikeringkan.

Yang berikut si hijau. Awalnya gw nebak ini rasa kacang ijo, tp begitu gw buka bungkusnya, ada seriwing2 aroma green tea... Dan yap, begitu gw makan ada aroma khas green tea yg menyeruak, dengan sedikit rasa pait herbal di after tastenya.

Terakhir, si kuning misterius.. Dari keempatnya, ini yg aromanya paling tajam, rasanya pun paling manis, tp si misterius ini tetaplah misterius. Karena gw ga bisa nebak ini sebetulnya rasa apa, antara kacang ijo, atau kacang tanah, atau mungkin buah2an kering.

Pada dasarnya, rasa kue2 ini mirip mochi, kenyal dengan tekstur serta rasa khas tepung beras. Cuma ditambah sedikit rasa2 dan potongan kacang, buah, ataupun bahan dasar varian rasanya (kayak si ketan item, masih ada sedikit2 rasa chunk ketan itemnya). Kemudian, instead of dibalur tepung, Yeongyangtuk justru dibalur kacang tanah yang dihaluskan. Kalo lo ga doyan kue2 yg kurang manis, mungkin sebaiknya melewatkan opsi kue2 ini. Tp kalo lo suka kue2 tradisional indonesia, you might wanna try... Rasanya ga jauh dari budaya kita :)


Aaaaaa makin penasaran sm si GyungDan

*ngetik sambil ngunyah*



macem2 kue Jong Ro
(yang No 5 itu si GyungDan)


menu box set Jong RO
(yang A-2 itu terlihat menarik yha?)


Location: Grand Wijaya Center Blok F No. 41
Score: 7.5 / 10
Harga: 1 Box 25.000 - 50.000 (ga dijual satuan)
untuk Gift Set 1 box 100.000 - 400.000


Omar's Coffee



Location:Jl Radio Dalam Raya no 2D
(kalo dari arah Pondok Indah, di lampu merah perempatan RaDal, nengok aja ke kiri)

Sebetulnya sudah agak lama gw melirik si kedai kopi mungil ini yg nyempil di dekat perempatan radio dalam. Tempatnya kecil, tp terlihat 'serius'.

Tempat2 kecil yg misterius inilah yg paling sering menarik perhatian gw, lagipula, gw suka berpikir, buat apa gw mereview tempat2 ngopi ngetop, yg udah di review 2juta orang yg pastinya lebih jago dr gw? (Ahaha lebay kayak alay). Lebih baik gw cari tempat2 kurang ngetop yg sebetulnya layak mendapat perhatian lebih, kemudian dibuat ga kalah ngetop dr yg udah ngetop. (Apa sih?)

Menemukan tempat2 kecil misterius yg ternyata mengagumkan itu seperti mendapatkan diamond in a rough. Selayaknya Quintino's coffee yg lalu. Cuma yg jadi masalah, sejauh mana si tempat kecil ini bisa mempertahankan dirinya. Karena aktualisasi itu penting untuk dijaga. Sering gw sudah menggembor2kan sebuah tempat kecil misterius, yg akhirnya beberapa bulan kemudian tempat itu hilang tergilas monster2 papan atas. jadi review berapi2 pun tidak lagi valid.

Nah si Omar's Coffee ini kalo gw perhatikan sudah bertahan cukup lama, dan semangat gw kian menggebu pas baca dr buku "Ngopi Yuk!" . Ternyata, cafe kecil ini adalah tempat mangkalnya komunitas pencinta kopi. Apalagi, katanya sang owner memilih sendiri biji2 kopi langsung dr para petaninya, dia pun ga mau stock terlalu banyak bubuk kopi agar tetap bisa dijaga kesegaran serta kualitas dr kopi2nya.

Wah sesuai dugaan, tempat ini beneran serius.

Di akhir petualangan spontan saya dan wahyu hari ini, kami sempatkan untuk mampir, mumpung masih searah jalan pulang. Begitu sampai, ada 2 orang polantas yg tengah rehat sambil ngopi di sore hari, wah rupanya keberadaan warung kopi benar2 sudah tergilas ya? XD


Seperti biasa, wahyu memesan secangkir hot cappuccino sebagai bahan pembanding, sementara saya sedang ingin mencoba 'jagoan' di tempat ini. Amat disayangkan, tyt jagoannya berupa menu2 ice blended coffee (Jamaican Rhum and cookies) bahkan yg paling menarik perhatian saya pun juga berupa menu ice blended coffee (Caramel Espresso). Yah, berhubung saya ga terlalu nge-fans dengan kopi dingin, jadilah saya memesan hot caramel macchiato saja.



Hasilnya?

Bukan kopi numpang lewat :D
Alias masih ada karakter yg bisa dikecap di lidah. kopinya kental, tp bukan gara2 'dipaksa' sampai kebanyakan susu. Semua takarannya pas dan gurih. Dan untuk caramel macchiato nya, masih benar2 kerasa karakter espressonya, jadi masih agak pait2 dikit dengan selingan rasa manis caramel, yang kemudian meninggalkan aroma yg earthy. Ini karakter kopi yg saya suka :)



Tempatnya kecil, tapi cukup nyamanlah buat sekadar mampir sebentar, menunggu macet hilang. Tersedia wifi dan beberapa majalah untuk dibaca2 (walaupun entah kenapa majalahnya kok majalah perempuan semua yha?). Kisaran harga Rp. 8.000 - 22.000



Tdnya sempat mau coba black coffee juga untuk menjajal karakter asli Omar's Blend yg katanya dipergunakan untuk sebagian besar menu di sini. Tp berhubung email klien sudah berdenting, maag sudah memberi warning, ya sudah, saatnya saya berkemas.

Maybe next time then :)

score: 7 / 10


Ps: utk caramel macchiato sebaiknya tidak perlu ditambahkan gula, krn caramelnya sudah cukup manis :) (tp ini menurut saya loh--baca: ga doyan kopi manis2 XD)

Bubur Kwang Tung

Yes, setelah sekian lama tidak pernah menulis disini dan setelah sekian lama mengalami hiatus juga penunggakan biaya kosan berlebih, ahirnya saya sebagai kontributor paling malas dan paling noisecore disini mendapat kesempatan untuk kembali menulis dan mereview tempat makan paling spektakuler. Bubur, apa itu bubur? Apa yang kalian ketahui tentang bubur? Ayam? Lembek? Putih? Kertas? *paan sih*


Bubur Kwang Tung terletak di daerah Pecenongan. Saya dan kontributor tamu yang merekomendasikan tempat ini mendapatkan kesempatan untuk menjajal tempat ini setelah menonton konser Sajama Cut, eh maksud saya Radio Dept. di Potatohead. Bubur Kwang Tung ini buka 24 jam, jadi kalian semua jangan hawatir untuk kehabisan disini, ibarat kata Rida Sita Dewi "Masih ada kesempatan kita." Oke mari kita sikat!

Kami bertiga memesan Bubur Kepiting di dalam draft menu Bubur Ala Canton (semacam bubur has Hongkong, yang di sajikan dalam satu mangkuk besar). Lalu sebagai teman Bubur Kepiting tadi, kami pun memesan cakue 4 pieces, Comeo Hongkong, Milk Tea dan Chinese Tea Pot.


Penyajian disini cukup cepat. Kami hanya menunggu sekitar 1 lagu Cinta Jangan Kau Pergi nya Sheila Majid kemudian voila Comeo Hongkong, Cakue, dan Bubur pun datang.


Bubur Kepiting yang kami pesan ini berasa sedikit seperti cream soup. Mungkin karena di sajikan dengan steamed kepiting, atau karena memang agak creamy. Yang jelas, rasanya berbeda dengan jenis jenis bubur berbahan dasar ketan putih atau beras lainnya. Dikombinasikan dengan menggunakan cakue yang disajikan secara tidak konvensional. Dalam penyajian bubur konvensional biasanya cakue disajikan dengan cara diiris - iris kecil kemudian ditaburkan diatas bubur, nah disini cakue disajikan dengan potongan - potongan yang agak besar dan kita bisa mencocol cakue tersebut kedalam satu mangkuk bubur. Oiya, bagi yang suka pedas, disini juga disediakan semacam cuka yang diberikan potongan potongan biji cabai rawit untuk di masukan kedalam bubur, tapi hati hati saos cuka ini cukup pedas.

Comeo Hongkong yang kami pesan ini mungkin adalah sejenis Horenso yang biasa kalian temukan di supermarket supermarket terdekat, Horenso ini masih satu family dengan bayam. Tapi bedanya Horenso hidup di rawa rawa, jadi jelas rasanya lebih kasar agak seperti kangkung dan lebih stoner. Cameo Hongkong ini disajikan dengan tumisan bawang putih dan tampaknya sedikit minyak zaitun. Recommended untuk dimakan bersama bubur barusan!

Sayangnya, pesanan minum kami datang cukup lama. Mungkin sekitar 15 menit dari pesanan makanan datang baru minum pun datang, itu pun ketika kami harus mengingatkan kembali pelayannya.


Milk tea nya biasa aja, level standar. Begitu pula dengan Chinese Tea Pot nya.

Mari kita tanyakan guest contributor kita tentang Bubur Kwang Tung ini.

Natasha Gabriella Tontey, 21
Illustrator/Photographer

"Kalau kita makan disini, kita bisa liat artis artis yang udah pernah datang ke sini dari foto - foto di dindingnya"


Overall tempat ini cukup asik dan bubur nya pun bisa terbilang obscure dan cult. Serta rasa yang berkualitas. Siapkan 100 ribu untuk makan berdua pun kenyang!

7,89/10




JAJALED!

Daeng Naba, Ampera

Akhirnya ngapdet.


Bagi ente-ente penggemar berat daging, konro pastinya menjadi makanan fardu'ain. Daeng Naba, yang terletak di Jalan Ampera Raya, memiliki tagline "Konro dulu Bro..", menyajikan konro dalam berbagai jenis bumbu. Apose saja? Nih liat menunya sendiri yak!


Kami memesan Sop Konro seharga 39.500


Konro Bakar seharga 41.500


Dan Konro Bakar Asam Pedas seharga 43.500. Nah, ini nih yang jarang ada di tempat lain. Rasanya yaaaa asam pedas. Tapi.....KANEEEEEEE!


Yang disayangkan dari tempat makan ini adalah........ LALET. Dimana2 ada lalet. Laletnya ga mempan dikasih apapun atau diapain juga. Atau mungkin jimat keberuntungan terdapat di dalam lalet-lalet jahanam tsb.


Kenapa fotonya timnas semua!?

Cabut dari restoran tersebut, jalan ke arah Circle K ada Daeng Naba yang lebih reot. katanya sih ini yang asli. Jadi yang tadi saya mampir apa dong? Cabang baru kali yak? :/


Rate 1-10 saya kasih 7. Sebuah tantangan bagi anda semua yang ga takut makan kalo banyak lalet. Bawa duit 50ribu kalo gamau pesen minum dan memilih beli Aqua di warung :p