Mie Tulang

Nah, nah selamat pagi semuanya, mungkin ada baiknya review kali ini dimulai dengan perkenalan terlebih dahulu.

Kami berdua adalah kontributor baru untuk blog ini, biasa dikenal dengan Rega dan Riar, dua pemuda pemudi yang sempat terjerembab ke lubang cinta yang mengenaskan, dan berharap bisa menemukan cinta baru dengan memberikan kontribusi ke blog ini (baca: pamrih). Mengingat kami suka mengkonsumsi makanan-makanan yang berbau psychedelic folk era 70-an, kami rasa akan sangat menyenangkan kalau kami bisa berbagi pengetahuan kami kepada masyarakat yang gemar mengkonsumsi media.

Review kami kali ini jatuh ke tangan Pak Tula Anan, entah namanya memang begitu tapi yang pasti kami mengenal tempat makannya dengan nama 'Mi Tulang'. Tempat ini sendiri direkomendasikan oleh teman kami, seorang dedengkot disco yang disegani di Jawa Barat, Allan Pringdandy.




Pertama kami mencicipi makanan ini, kami sendiri agak bingung dengan yang dimaksud dengan Mi Tulang. Awalnya saya pikir tulangnya dihancurkan sampai menjadi bubuk, dan dihisap sambil ngemil mi Anak Mas. Tapi ternyata? Jeng, jeng. Yang dihadirkan adalah mi dalam pengertian INDOMIE, dua bungkus dijadikan satu, namun dengan bumbu saos racikan Pak Tula Anan sendiri. Perlu dicatat, bumbu saos yang dimaksudkan di sini tak lain tak bukan adalah saos yang paling sering kalian temui di warung warung makan. Iya, saos yang paling sering keluar masuk Trans Tv karena kasus pembuatannya itu.



Rasanya sendiri tidak jauh berbeda dengan semua rasa mi yang diberi saos. Lalu di mana tulangnya? Misteri dari piring hijau kosong yang diberikan ternyata adalah untuk membuang tulangnya setelah kita emut-emut. Dan tulang yang di campur dengan mie nya ini adalah tulang ayam, bukan tulang sapi atau kambing.




Tulangnya sendiri disembunyikan di tengah-tengah mie-nya, jadi kalian baru akan menemukannya setelah beberapa suap.



Jadi inti (dan mungkin esensi) dari Mi Tulang ini adalah: makan mi sambil ngemut tulang. Ibaratnya seperti makan nasi goreng tapi kerupuknya cuma bisa untuk diemut, atau ngelihat mantan tapi cuma bisa ngemut jari (ouch). Beberapa tulangnya masih berdaging, yang lunak-lunak (tulang rawan), biarpun kecil-kecil tp alhamdulillah masih bisa untuk dikunyah. Tersedia pula bubuk cabai rawit sebagai tambahan nya, namun jangan coba coba untuk memasukan bubuk cabai rawit ini berlebihan, ini bakal nyesek di tenggorokan, lebih nyesek daripada melihat kecengan yang ngediemin kalian. Bubuk cabai ini adalah bubuk cabai yang biasa di pakai di keripik seblak (saya kurang tahu sebutan keripik ini jika di luar bandung, yang jelas keripik ini adalah keripik aci yang dibumbui cabai rawit kering).

Oh iya, tempat makan ini berada di samping sungai di depan pasar bunga Wastukencana di Bandung, Jalan Wastukencana tepatnya, bersampingan dengan Seni Abadi (tempat cuci cetak film analog yang famous). Jadi mungkin setelah kalian beli bunga mawar untuk pacar kalian lima tangkai yang harganya 25 ribu, tidak ada salah nya untuk mampir ke tempat makan Pak Tula Anan ini, selain low budget tempat ini juga memiliki pelayan yang sangat ramah dan sunda sekali. Mungkin tempat makan Pak Tula Anan ini bisa menjadi referensi bagi kalian pasangan pasangan muda yang sudah bosan mengajak pacar kalian yang rewel ke restoran restoran berbau fancy, dan sesekali ingin mengajak pacar kalian ke tempat yang un-higienis dan agak filthy.

Secara keseluruhan, ide Pak Tula Anan ini patut diberi pujian 'huh? wtf'', walau rasanya mungkin standar, tidak jauh berbeda dengan yamin pinggir jalan yang disaosin. Kalau bukan karena harganya (Rp. 7000,00) dan idenya yang obsesif-konspiratif, mungkin tidak ada yang terlalu menarik dari masakan ini. Overall, 6,66 out of 10.



JAJALED!
R&R

No comments:

Post a Comment